Tuesday, September 11, 2007

Al-Fawa-id min Fathil Majid #1: "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."


[Al-Fawa-id min Fathil Majid (Faedah-faedah daripada kitab Fathul Majid) adalah sebuah siri artikel yang berupa tukilan-tukilan daripada kitab Fathul Majid Syarh Kitabut-Tauhid oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh, yang mensyarahkan (menjelaskan) Kitabut-Tauhid oleh al-Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi. Ianya diusahakan dengan tujuan mempermudahkan pembaca untuk membaca dan mengambil faedah dan manfaat daripada kitab Fathul Majid. Wallahu al-Musta'an.]


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

(Dan tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.) (Surah Adz-Dzaariyaat (51): 56)

Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah) berkata, "Makna ibadah adalah taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya melalui lisan-lisan para rasul."

Beliau berkata lagi, "Ibadah adalah hal yang mencakup segala perkataan dan perbuatan, baik yang zahir mahupun yang batin yang dicintai dan diridhai oleh Allah."

Ibn al Qayyim berkata, "Ibadah berkisar pada lima belas perkara pokok, yang barangsiapa mewujudkannya dengan sempurna, maka berarti ia telah dapat mewujudkan tingkatan-tingkatan ubudiyah dengan sempurna."

Penjelasannya adaah, bahawa ibadah terbahagi menjadi ibadah hati, lisan dan seluruh anggota badan. Sedangkan hukum-ukum yang berkaitan dengan ubudiyah ada lima macam: wajib, mustahab, haram, makruh dan mubah. Hati, lisan dan seluruh anggota badan memiliki kelima hukum tersebut.

Imam Al Qurthubi berkata, "Asal makna ibadah adalah merendahkan diri (التذلل) dan tunduk. Setiap tugas-tugas keagamaan yang dibebankan ke atas orang-orang yang mukallaf dinamakan ibadah, karena mereka melakukan hal itu secara konsisten dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri kepada Allah Ta'ala."

Sedangkan makna ayat di atas (Adz-Dzaariyaat (51): 56); bahawasanya Allah Ta'ala memberitahukan bahawa Dia tidak menciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Inilah hikmah diciptakan-Nya semua makhluk-Nya.

Menurut saya, "Yang dimaksudkan adalah hikmah yang terkait dengan syariat (الحكمة الشرعية الدينية)."

Al Imad Ibnu Katsir berkata, " Beribadah kepada-Nya adalah taat kepada-Nya dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Yang demikian itulah substansi dari agama Islam, sebab makna الإسلام adalah الإستسلام (menyerahkan diri) kepada Allah Ta'ala yang mencakup kepatuhan, kerendahan dan ketundukan dengan penuh." Demikianlah perkataan beliau.

Beliau berkata lagi mengenai penafsiran ayat tersebut, "Makna ayat tersebut adalah bahwa Allah menciptakan seluruh makhluk agar mereka menyembah-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya, maka Dia akan membalasnya dengan imbalan yang paling sempurna; dan barangsiapa yang berbuat maksiat kepada-Nya, maka Dia akan mengazabnya dengan adzab yang paling pedih. Dia Ta'ala juga memberitahukan, bahwasanya Dia tidak memiliki hajat kepada mereka. Bahkan merekalah orang-orang yang amat berhajat kepada-Nya dalam setiap kondisi mereka, sebab Dia adalah Pencipta dan Pemberi rezeki mereka.

Ali bin Abi Thalib (radhiyAllahu 'anhu) berkata - berkenaan dengan ayat tersebut, (Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia) melainkan agar Aku (Allah) memerintahkan mereka untuk menyembah-Ku dan mengajak mereka untuk beribadah kepada-Ku." Mujahid berkata, "Melainkan agar Aku (Allah) memerintahkan dan melarang mereka." Penafsiran ini diplih oleh Az-Zajjaj dan Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah).

Selanjutnya Ibnu Katsir berkata, "Di antara ayat yang mendukung penafsiran tersebut adalah firman-Nya, 'Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban).' " (Surah Al Qiyamah (75): 36) Imam Syafi'i berkata - berkenaan dengan maksud ayat ini, "Dibiarkan begitu saja tanpa diperintah atau dilarang."

Allah Ta'ala berfirman dalam banyak tempat di dalam Al Qur'an: اعبدوا ربكم (Sembahlah Tuhanmu). (Surah Al Baqarah (2): 21), اتقوا ربكم (Bertaqwalah kepada Tuhanmu). (Surah Al Hajj (22): 1)

Di dalam ayat-ayat tersebut, Allah Ta'ala memerintahkan mereka sesuai dengan tujuan yang karenanya mereka diciptakan dan diutusnya para rasul. Makna semacam inilah yang secara qath'i dimaksudkan oleh ayat tersebut; yaitu sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan kaum muslimin dan dengannya mereka berhujjah.

Ibnu Katsir berkata lagi mengenai ayat tersebut, "Ayat ini serupa dengan makna firman-Nya, 'Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita'ati denan seizin Allah.' " (Surah an-Nisaa' (4): 64) di mana seorang rasul terkadang dipatuhi dan terkadang didurhakai. Begitu pula, tidaklah Dia menciptakan mereka melainkan untuk beribadah kepada-Nya, namun terkadang mereka beribadah dan terkadang tidak melakukannya. Allah Ta'ala tidak berfirman, "Sesungguhnya Dia melakukan perbuatan yang pertama, yaitu menciptakan mereka agar Dia membuat mereka semua melakukan perbuatan yang kedua, yaitu beribadah kepada-Nya." Akan tetapi Dia Ta'ala menyebutkan, bahwa Dia melakukan perbuatan yang pertama agar merekalah yang melakukan perbuatan yang kedua, sehingga dengan demikian merekalah orang yang melakukan perbuatan itu. Maka bila dilakukan seperti itu mereka akan mendapatkan kebahagiaan atas usaha mereka sendiri dan mendapatkan apa yang dicintai dan diridhai oleh-Nya untuk kepentingan mereka." Demikian perkataan Ibnu Katsir.

Makna semaca itu diperkuat oleh beberapa hadits yang mutawatir, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya dari Anas bin Malik radhiyAllahu 'anhudari Nabi shallAllahu 'alayhi wa sallam, beliau bersabda,

Allah Ta'ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan adzabnya, "Andaikata engkau memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya ditambah yang seperti itu lagi, apakah engkau akan menebus dirimu dengan semua itu?" Orang itu menjawab, "Ya." Lalu Dia berfirman lagi, "Sungguh Aku telah menghendaki darimu yang lebih ringan dari itu manakala engkau masih di tulang rusuk Adam, yaitu agar engkau tidak menyekutukan-Ku." (Kemudia perawi ragu-ragu dan berkata, "Aku mengira selanjutnya Allah Ta'ala berfirman lagi") "dan Aku tidak akan memasukkanmu ke dalam neraka, namun engkau enggan untuk itu bahkan sebaliknya hanya memilih untuk berbuat syirik." [Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Bukhari.]

Orang yang berbuat syirik ini telah menyalahi kehendak-Nya agar dia mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Namun dia tetap menyalahi kehendak-Nya dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Kehendak (Iradah) semacam ini dinamakan Iradah Syar'iyyah Diniyyah sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu.

Jadi, antara makna Iradah Syar'iyyah Diniyyah dan Iradah Kauniyyah Qadariyyah terdapat sisi makna yang umum dan khusus yang mutlak. Keduanya terpadu pada seseorang yang berbuat ikhlas (bertauhid) dan taat. Namun Iradah Kauniyyah Qadariyyah terdapat pada seorang yang berbuat maksiat. Maka pahamilah hal seperti ini, niscaya anda akan selamat dari kebodohan yang dilakukan oleh ahlul kalam dan para pengikut mereka.


[Ditukil dari kitab Fathul Majid: Penjelasan Kitab Tauhid (Edisi Revisi) oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh, diteliti oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, terbitan Pustaka Azzam, Jakarta, Indonesia, bab "Tauhid, Hakikat & Kedudukannya".]

No comments: