Saturday, February 06, 2010

Dunia dikejar... Akhirat ditinggalkan?

"Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, gunakan waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya akan Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan akan Aku cukupi kebutuhanmu. Namun, jika engkau tidak melakukan itu, maka akan Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutupi kebutuhanmu."
[HR Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan yng lainnnya. Liht Ash-Shahiihah (1359)]

Dalam satu riwayat disebutkan:

"Akan Aku penuhi hatimu dengan kesibukan."
[HR Ibnu Majah, Shahiih Sunan Ibnu Majah (3315)]

"Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah ke dalam Neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan." (QS. An-Naml: 90)

"...Dan Allah berkata (kepada mereka): 'Rasailah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan'." (QS. Al-Ankabuut: 55)

"Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Yaasiin: 54)

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Kedua kaki anak Adam tidak akan (dibiarkan) melangkah pada hari Kiamat dari hadapan Rabbnya, hingga ia ditanya tentang lima perkara; Tentang umurnya, untuk apa ia dihabiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa ia pergunakan? Tentang hartanya, dari mana ia dapatkan, dan untuk apa ia belanjakan? Dan, apa yang telah ia kerjakan terhadap apa yang ia ketahui?"
[HR at-Tirmidzi dan lainnya. Lihat kitab Ash-Shahiihah (946)]

Dari Abu Barzah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Kedua kaki seorang hamba tidak akan (dibiarkan) melangkah pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, apa yang telah ia kerjakan dengannya? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang badannya, untuk apa ia pergunakan?"
[HR at-Tirmidzi]

[Tukilan (terpisah) dari kitab "Prioritas dalam Ilmu, Amal dan Dakwah" oleh Syaikh Husain bin 'Audah al-'Awaisyah, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i]

"Ramalan Nasib Kamu untuk Hari ini..."

[Menyingkapi permasalahan dukun dan tukang ramal, dan larangan mendatangi mereka. Nasihat bagi orang-orang yang beriman di Facebook agar tidak "mendatangi" Anita the Online Psychic, aplikasi Horoscope dan Astrology, dan yang sewaktu dengannya.]

Mendatangi Dukun dan Peramal

Ramalan bintang yang isinya berupa ramalan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di muka bumi berdasarkan perjalanan bintang, yang pelakunya menganggap bahawa mereka mengetahui apa yang telah terjadi dan yang belum terjadi, adalah haram berdasarkan al-Qur-an, as-Sunnah dan kesepakatan seluruh ulama.

Islam mengharamkan imbalan (bayaran) yang diperolehi dari hasil perdukunan. Seperti imbalan yang didapat oleh munajjim (ahli nujum), pelempar batu, penulis garis di pasir dan pembaca (mantera dalam) cangkir.

Islam juga mengharamkan segala bentuk hubungan dengan mereka, kecuali dalam rangka melarangnya atau menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Ibnu Shayyad, seorang dukun Yahudi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam orang yang mendatangi peramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu, dengan tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Beliau bersabda:

"Barangsiapa yang mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari." [HR Muslim (XIV/227)]

Ancaman ini ditujukan kepada orangyang mendatanginya dan sekedar bertanya. Sedangkan orang yang membenarkannya, maka ia kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

"Barangsiapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu membenarkan apa yang ia katakan, sungguh, ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." [HR At-Tirmidzi (135), Abu Dawud (3904), Ibnul Jarud (107), Ahmad (II/408-476), dan lainnya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Saya (penulis) katakan bahwa hadits ini memang shahih.]

Saudaraku Muslim - semoga Allah subhanahu wa ta'ala menunjukimu kepada apa yang Dia cintai dan ridhai - jika sekedar bertanya kepada dukun akan dihukum seperti itu, lalu apa kiranya hukuman bagi dukun yang ditanya?

==================

Sungguh sangat indah perkataan 'Abdullah bin Muhammad al-Andalusi al-Maliki dalam Malhamah an-Nuuhiyah-nya:

Jangan kalian ikuti ilmu bintang
Karena ia hanyalah bualan para dukun

Ilmu bintang dan syari'at Muhammad
Takkan pernah bertemu di hati hamba

Apakah ia dapat menunjukkan kebahagiaan dan kesengsaraan?
Tidak, demi Yang menciptakan manusia

Siapa meyakini bahwa bintang berpengaruh
Sungguh ia pengingkar syari'at dan pengikut kesesatan

Bintang diciptakan untuk tiga perkara
Maka, dengarlah perkataan orang yang berwaspada

Sebagian bintang sebagai hiasan langit
Seperti permata tergangung di leher wanita

Ada bintang yang menjadi penunjuk jalan
Dan ada pula yang menjadi pelempar syaitan

Manusia tak tahu kejadian hari depan
Karena setiap hari Allah dalam kesibukan

Hujan Dia turunkan dengan karunia-Nya
Bukan bintang tertentu yang menurunkannya

Orang yang berkata bahwa hujan turun
Karena ham-ah, sharfah atau bintang mizan

Maka ia telah melakukan kedustaan
Yang tidak berasal dari ar-Rahmaan

[Tukilan dan adaptasi dari kitab "Penyebab Rusaknya Amal Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah yang Shahih" oleh Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i]

Wallahu a'lam

"Reference Row, Reference Row, Ready!"

[Lessons from BMT for the Muslims]

Having to recourse my BMT sure made me reminisce some interesting moments in BMT. One interesting moment (or perhaps moments) which I find memorable is PT, whereby the Fitness Instructor (FI) or the conducting sergeant would command,

FI: "Form 15 rows in front of me, MOVE!"
Trainees: MOVE!

FI: (Pointing to one row) "Reference Row, Reference Row Ready!"
Trainees (from Reference Row): READY! (while raising their right hands high)

FI: Class Ready!
Trainees: READY!

FI: Class Move Out! (I prefer my FI who'd say, "SPREAD!")
Trainees: SPREAD!


Lesson #1: Importance of 1 Commander/Leader and 1 Reference Row

Now, those who went throught NS, particularly BMT would understand this importance. Discipline, coordination, orderly, and keeping in line with one another, regardless of how far one has spread out. Obeying the commander/leader, with reference to the Reference Row.

So how is this important and relevant for us Muslims?

The Prophet sallAllaahu 'alayhi wa sallam is definitely our leader, our imam, no doubt.

But who is our "Reference Row"?

Allah says in the Qur-aan:

"And the first to embrace Isl�m of the Muh�jir�n (those who migrated from Makkah to Al-Madinah) and the Ans�r (the citizens of Al-Madinah who helped and gave aid to the Muh�jir�n) and also those who followed them exactly (in Faith). All�h is well-pleased with them as they are well-pleased with Him. He has prepared for them Gardens under which rivers flow (Paradise), to dwell therein forever. That is the supreme success." (At-Tawbah 9:100)

Yes, the Sahaabah (Companions of the Prophet) ridwaanullaahi 'alayhim are our "Reference Row".

Allah also says in the Qur-aan:

"You [true believers in Isl�mic Monotheism, and real followers of Prophet Muhammad SAW and his Sunnah (legal ways, etc.)] are the best of peoples ever raised up for mankind; you enjoin Al-Ma'r�f (i.e. Isl�mic Monotheism and all that Isl�m has ordained) and forbid Al-Munkar (polytheism, disbelief and all that Isl�m has forbidden), and you believe in All�h." (Aali Imran 3:110)

This verse is usually understood to be referring to us Muslims. However, it is specifically referring to the Sahaabah ridwaanullaahi 'alayhim because this verse was revealed to them, during their lifetime.

The hadeeth of Iftiraaq mentions of the splitting of the Muslims into 73 sects, 72 will be in Hellfire and only 1 will be in Jannah (Paradise), and it is "Al-Jamaa'ah". [Reported by Aboo Dawood, Ad-Daarimee, Ahmad and others.] In one narration, the Prophet says, "that is, what my Companions and I are upon."

The hadeeth of al-Irbaad bin Sareeyah (hadeeth no. 28 in An-Nawaawee's 40 Hadeeths), in which the Prophet sallAllaahu 'alayhi wa sallam said, "Adhere to my Sunnah and the sunnah of the rightly-guided Caliphs (Khulafaa'), and bite onto it (hold firmly onto it) with your jaws." [Reported by Aboo Dawood and At-Tirmidhee]

Hence, no matter how far out we've "moved" or "spread" from the times of the Sahaabah (in terms of years), as long as we make them our "Reference Row", we can be sure that we are in line with the teachings of the Prophet.


Lesson #2: Clean Reputation

Now, this lesson has nothing to do with the first one. However, I find it meaningful, and I thank Allah for the enlightenment.

Guys who've been through NS, remember those times of Area Cleaning? Remember how those windows get dirty easily, and it is especially irritating when bird faeces get on them? Don't you just feel like shooting down the birds?

But how do you know which bird left the faeces on your windows? Could it be the pigeons? It could have also been the crows. It could even be those cute little green birds or mynahs that we adore, that come occasionally.

So, would it be right to eliminate the pigeons for their "wrongdoing" when it could have been other birds?

You see, our name or reputation is like a clean window. Every now and then, some birds will come to dirty it. It does not matter which bird dirties it, what matters is to keep the window clean.

And.. if we truly maintain our good name and reputation, someone else might be cleaning the window for us out of appreciation, respect or gratitude for us.

Similarly for us Muslims. Islam is like a clean window. Every now and then, terrorists and their evil acts tarnish it. Disregard those conspiracy theories that it could have been the work of the Jews or others. As long as it is done in the name of Islam, it is our duty and responsibility as Muslims to keep the window clean.

And at times, we get non-Muslims to clean it for us. Like Karen Armstrong, who defended the purity of Islam from the dirty acts of the terrorists. She also defended Wahhabism/Salafiyyah from the misconceptions and accusations that it breeds terrorism (refer to The Wahhabi Myth).

The same goes to SM Goh Chok Tong, whom after his first visit to Saudi Arabia, said that it is wrong to jump onto the conclusion that Saudi Arabia breeds terrorism.

Wallaahu a'lam.