Tuesday, March 20, 2007

Gerakan Wahhabi: Hakikat Gerakan Reformasi Dan Negara Arab Saudi Yang Pertama (Bhgn 3)


Doktor Abdurrahim Abdurrahman Abdurrahim mengatakan,

"Ada sebagian penulis yang memberikan nama madzhab bagi dakwah salafiah, dan ada pula yang memberinya nama Wahhabiyah. Padahal, sebenarnya penggunaan kedua nama atau predikat tersebut bagi dakwah beliau tidaklah penting. Yang jelas bahwa dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah sebuah madzhab baru dalam Islam. Bahkan, beliau sendiri begitu antusias meyakinkan kepada umat bahwa sesungguhnya ia tidak mengajak mereka untuk memeluk kepada madzhab baru dalam Islam."

Dalam beberapa risalahnya ia mengatakan,

"Sesungguhnya aku tidak pernah membawakan kebodohan. Segala puji bagi Allah Yang Mahakuat lagi Maha Dermawan. Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang hanif, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Segala puji bagi Allah! Aku tidak pernah mengajak kepada sebuah madezhab sufi atau lainnya. Tetapi, aku hanya mengajak kepada Allah semata yang tidak memiliki sekutu sama sekali. Aku mengajak kepada sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang beliau pesankan kepada seluruh umatnya." [7]

Predikat Dakwah Wahhabiyah adalah pemberian orang-orang yang memusuhi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Mereka ingin menunjukkan kepada manusia bahwa prinsip-prinsip yang diserukannya adalah bid'ah baru yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Bahkan, orang-orang Turki yang memusuhi dakwah ini berikut para pendukung mereka bersikap berlebihan dalam masalah ini. Mereka menyebut para pengikut dakwah beliau sebagai golongan Rafizhah dan Khawarij. Bahkan, dokumen-dokumen resmi yang jatuh ke tangan Muhammad bin Ali dan Al-Bab Al-'Ali menyebutkan bahwa Amir Saudilah yang telah berusaha menyebarluaskan prinsip-prinsip dakwah salafi dengan nama Al-Khariji. [8]

Muhammad Jalal Kisyik mengatakan,

"Dakwah tauhid yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dapat diterima oleh para ulama di berbagai negara Islam. Atau minimal tidak ada seorang pun di antara mereka yang sanggup menolaknya., bahkan sebaliknya. Orang-orang yang tidak simpati mempersoalkan pernyataan Muhammad bin Abdul Wahhab yang menyatakan, 'Tidak ada yang baru sama sekali dalam dakwah ini'. Mereka cenderung memperdebatkan bentuknya, dengan mengadakan kebohongan-kebohongan. Sementara banyak ulama dan cendekiawan termasuk orang-orang orientalis yang menyatakan bahwa dakwah tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang benar."

Demikian pula menurut pendapat Ibnu Biysr. Ia setuju terhadap pikiran-pikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab seandainya ia tidak terpengaruh oleh isu yang tersebar bahwa orang-orang Wahhabi hanya menginginkan segi lahiriahnya saja, bukan batinnya.

Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama penerusnya menaruh perhatian besar terhadap masalah tersebut. Ia memang menyatakan bahwa tidak ada yang baru sama sekali pada dakwahnya, ia tidak pernah membawa madzhab kelima. Itu memang benar, kendatipun upaya untuk menghilangkan tuduhan sebagai madzhab kelima jelas tidak mudah. Sebab, pada hakikatnya kedudukan madzhab-madzhab yang ada bukanlah sebagai agama. Akan tetapi, sebagai ijtihad yang tokoh-tokohnya juga manusia biasa.

Upaya menghilangkan tuduhan sebagai madzhab baru tersebut terus-menerus dilakukan oleh para pengikut setia Muhammad bin Abdul Wahhab dalam berbagai kesempatan, baik di masjid maupun di pemerintahan. Mereka takut kalimat Wahhabiyah itu terus melekat pada gerakan mereka. Karena itu, mereka selalu meyakinkan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab hanyalah seorang murid atau seorang ulama ahli fiqih pengikut madzhab Hanbali yang telah mendapatkan pengakuan umat. Jadi, kenapa prestasi beliau harus terus-menerus dipersoalkan?

Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mengajak kepada madzhab seorang sufi, atau seorang ahli fiqih, atau seorang teolog, atau seorang imam besar. Tetapi, berkali-kali ia menyatakan,

"Aku mengajak kepada sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang beliau pesankan kepada seluruh umatnya. Aku ingin selalu menjunjung tinggi kebenaran. Bahkan, aku bersaksi kepada Allah, para malaikat-Nya, dan seluruh makhluk jika aku mendapatkan kalimat kebenaran dari kalian, tentu akan aku terima dengan sepenuh hati. Bahkan, siapa pun yang berani menentangnya akan kuhadapi mati-matian."

Demikianlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membuka pintu ijtihad bagi orang-orang yang menentangnya. Ia menulis surat kepada Gubernur Ghalib yang isinya menyatakan, "Jika suatu masalah sudah disepakati oleh para ulama, tidak perlu dibicarakan lagi. Tetapi, menyangkut masalah yang bisa diijtihadi, tidak ada larangan sama sekali untuk melakukan ijtihad."

Sesungguhnya Muhammad bin Abdul Wahhab cenderung sangat terbuka terhadap guru-gurunya di Makkah. Bahka, ia sangat dekat dengan semangat Islam dalam dialog yang terkenal antara para ulama Wahhabiyah dan para ulama Makkah. Ia pernah mengatakan,

"Aku hanya menerima apa yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah karena ia adalah panutanku. Aku tidak bisa menerima kamu mengatakan kepadaku, 'Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda', atau 'Allah berfirman'. Sebab, Abu Hanifah itu lebih tahu ucapan beliau daripada aku dan kamu."

Dengan demikian kita dianggap menzhalimi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berikut dakwahnya dan menzhalimi orang-orang salaf kalau kita membicarakan tentang mereka berdasarkan pemahaman yang ramai dibicarakan di tengah-tengah masyarakat.

Pemerintah Arab Saudi atau revolusi Wahhabiyah menentang keterbelakangan pemerintahan Usmani. Ia berusaha untuk menyelamatkan diri dari kapa pemerintahan Usmai yang karam. Yang tersisa di kapal tersebut hanya sebuah kapak yag menghalangi setiap orang yang ingin berusaha menambal kebocoran kapal.

Tidak ada seorang pun di Kairo, Makkah, dan Al-Astanah yang merasakan adanya keruntuhan Bukhara, Samarkand, dan Qauqaz. Padahal, kota-kota tersebut lebih dikenal dalam sejarah peradaban Islam daripada Bulgrad, Salonik, dan Al-Astanah sendiri. Sejak abad pertama Hijriah rakyatnya yang beragama Islam mencapai seratus persen. Akan tetapi, kota-kota tersebut tidak berdaya menghadapi armada-armada kapa perang Eropa yang mendarat di pantai-pantai Arab. Maka, terjadilah tragedi bagi orang-orang mukmin yang harus dijajah oleh orang-orang kafir.

Sebuah pertanyaan tajam yang kemudian muncul pada waktu itu ialah, "Lalu, apa yang harus dilakukan? Bagaimana kita menghadapi aksi provokasi tersebut?" Jawaban pertama yang terlontar di dunia Islam dan pengaruhnya masih tetap bergema sampai sekarang ialah manhaj pemerintah Arab Saudi yang pernah dilontarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab dan diteruskan oleh Muhammd bin Sa'ud yaitu: Tidak akan jaya akhir agama ini, kecuali dengan apa yang membuat jaya generasi pertamanya.

Dengan lantang Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan bahwa tidak ada yang salah dalam hukum alam. Orang-orang kafir tidak boleh mengalahkan orang-orang mukmin. Tetapi, celakanya setelah mengalahkan orang-orang kafir mereka kembali menjadi musyrik. Akibatnya, mereka rugi di dunia dan akhirat.

Sesungguhnya fenomena pemujaan terhadap berhala sudah melanda ke segenap penjuru dunia. Bukan hanya sekedar dalam bentuk pengkultusan kepada para syaikh, para wali, orang-orang yang benar pikirannya, bahkan hingga berkeyakinan dengan adanya berkah pada batu, pohon, dan lain sebagainya. Di Mesir terdapat sebuah pohon bernam Ummul Syu'ur yang dimintai berkah oleh orang-orang awa karena mereka meyakini adanya roh pada pohon tersebut. Mereka biasa menggantungkan sepotong pakaiannya atau pakaian orang-orang yang mereka cintai di paku-paku yang berjejer di dekatnya dengan maksud untuk meminta bantuan atau dapat mengalahkan musuh. Orang-orang awam di Mesir juga biasa mengungkapkan keluhan-keluhan yang tengah mereka hadapi dengan cara menulis surat kepada Imam Syafi'i yang sudah meninggal dunia sebelum sepuluh abad yang lalu. Mereka merasa yakin bahwa Imam Syafi'i membaca surat tersebut, lalu menolongnya. Bagi orang-orang awam di Mesir, Imam Syafi'i adalah hakim syari'ah. [9]

[Ditukil dari kitab Hanya Islam Bukan Wahhabi oleh Prof. Dr. Nashir Bin Abdul Karim Al-Aql, halaman 10-14. Judul asli: Islamiyyah Laa Wahhabiyyah. Terbitan Darul Falah, Jakarta, Indonesia.]


______________
Nota kaki:

[7] Dikutip dari risalah atau surat Imam Muhammad bin Abdul Wahhab yang ditujukan kepada Abdullah bin Muhammad bin Abdul Lathif. Lihat Ad-Durar As-Sunniyah I/37. Ada yang kurang dalam kutipan Doktor Abdurrahim. Saya menyempurnakannya dari Ad-Durar As-Sunniyah.

[8] Dokumen ini dikirimkan oleh Bab Al-'Ali kepada Muhammad bin Ali., Daftar I, hlm. 4, tanggal 2 Januari 1808 Masehi atau Dzulhijjah (1222 Hijriah) (Doktor Abdurrahim). Lihat Ad-Daulah As-Sa'udiyah Al-Ula, karya Doktor Abdurrahim Abdurrahman Abdurrahim I/40-41.

[9] As-Sa'udiyyun wa Al-Hillu Al Islami karya Muhammad Jalal Kisyik (87-109).

Monday, March 19, 2007

Gerakan Wahhabi: Hakikat Gerakan Reformasi Dan Negara Arab Saudi Yang Pertama (Bhgn 2)


Wahhabiyah dan Peristiwa 11 September

Pascaperistiwa 11 September di Amerika beredar isu dan spekulasi-spekulasi bias mengenai Wahhabiyah. Orang-orang yang memusuhi dakwah peninggalan Muhammad bin Abdul Wahhab dan yang dengki terhadap negara Saudi serta penduduknya, baik yang muslim maupun yang non-muslim, sama melontarkan tuduhan bahwa Wahhabiyah berada di balik peristiwa itu. Tuduhan tersebut dipercaya begitu saja oleh media massa, para penulis, dan para politikus.

Semua kontroversi tersebut sudah cukup sebagai bukti bahwa sesungguhnya manusia itu berpandangan dan bersikap minor terhadap seruan reformasi tersebut berikut para pengikut dan negara yang menjadi sponsornya. Padahal, sebagian besar mereka tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut karena keinginan nafsu, kekerasan, kezhaliman, taqlid buta, kegelapan, dan kebodohan terlanjur mendominasi sikap dan hukum mereka terhadap seruan reformasi teresbut berikut pada pengikut dan negaranya.

Sesungguhnya seruan reformasi tersebut, apa pun nama atau predikat yang diberikan oleh manusia, merupakan eksistensi yang mencerminkan Islam dan sunnah Nabi yang murni dan bersih, seperti yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dipahami oleh para Sahabat dan Salafusshalih. Jadi, seruan reformasi ini bebas dari segala tuduhan minor yang dialamatkan kepadanya, sebagaimana yang akan diterangkan dalam pembicaraan nanti.


Hakikat Dakwah Menurut Kesaksian Orang-orang yang Jujur

Ada baiknya kalau saya kemukakan pernyataan atu kesaksian dari orang-orang di luar penduduk Najd yang mengenal secara dekat dakwah reformasi Muhammad bin Abdul Wahhab berikut negaranya yang sekarang, para ulamanya, dan para pengikutnya. Di antara mereka ialah Ustadz Hafizh Wahbah. Dalam kitabnya berjudul Ma Hiya Da'wah Al-Wahhabiyah ia mengatakan,

"Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah seorang nabi, seperti yang dianggap oleh Nibher warga Denmark. Tetapi, beliau adalah seorang pembaharu yang mengajak kepada agama yang haq. Beliau juga bukan seorang guru yang memiliki ajaran-ajaran tersendiri atau pendapat-pendapat yang khusus. Semua hukum furu' yang diterapkan di Najd adalah yang pernah diterapkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. [4] Adapun mengenai masalah akidah, mereka mengikuti Salafusshalih dan menyalahi yang lainnya. Akidah dan ibadah mereka cocok sekali dengan apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya dalam kitab-kitab karya mereka, kendatipun dalam beberapa masalah furu' mereka tidak sependapat. Menurut mereka, akidah dan ibadah yang dilakukan oleh kaum muslimin sekarang ini banyak yang tidak cocok dengan dasar-dasar agama Islam yang benar."

Saksi lain ialah Doktor Munir Al-Ajlani. Menjawab pertanyaan: Apa sifat gerakan Wahhabiyah itu? Ia berkata,

"Tidak sedikitpun penulis yang membahas pertanyaan tersebut, dan jawaban mereka beragam. Ada yang mengatakan bahwa Wahhabiyah adalah gerakan murni keagamaan yang ingin mengembalikan Islam pada jati dirinya yang pertama. Oleh karena itulah, gerakan ini dengan gigih memerangi segala bentuk kemusyrikan dan mengingkari setiap bid'ah yang diada-adakan sepeninggalan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ada yang mengatakan bahwa Wahhabiyah adalah gerakan politik yang bertujuan untuk memisahkan Najd dan negara-negara Arab lainnya dari kekuasaan Kekhalifahan Usmaniyah, dan mendirikan pemerintahan Arab yang otonom. Agama hanya dijadikan sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Ada juga yang mengatakan bahwa Wahhabiyah adalah gerakan perpaduan antara kepentingan agama dan nasionalis. Sebab, dalam beberapa bidang ia berjuang untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang bersifat agama dan nasionalis, mendirikan sebuah pemerintahan, dan mewujudkan sebuah sistem yang berdasarkan Islam salafi."

Seorang orientalis berkebangsaan Prancis bernama Henry Louis berkata, "Sesungguhnya semangat gerakan Wahhabiyah dan maknanya tidak pernah memberikan penentuan yang jelas dan sempurna."

Sekali tempo dikatakan bahwa Wahhabiyah adalah sebuah gerakan keagamaan yang bertuuan mengembalikan Islam pada jati dirinya yang pertama. Pada tempo yang lain dikatakan bahwa Wahhabiyah adalah sebuah gerakan pemurnian, radikal, dan menentang akidah pengkultusan para wali dan memeranginya tanpa ada kompromi sama sekali.

Semua itu hanya sekedar upaya mengidentifikasi Wahhabiyah dengan ciri-ciri yang tidak mendasar, seperti yang dikemukakan oleh musuh-musuhnya, atau seperti yang diperlihatkan oleh sebagian pengikutnya sendiri yang berlebihan.

Tidak ada cara untuk memahami gerakan Wahhabiyah dengan pengertian yang benar, kecuali dengan menyimak kitab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah karya Ibnu Taimiyah. Dengan demikian kita akan tahu bahwa sesungguhnya Wahhabiyah adalah sebuah gerakan pembaharuan bersifat politik dan keagamaan yang bertujuan untuk mendirikan negara Islam atas dasar yang telah dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah.

Kita cukup membaca kitab berjudul Majmu'ah Ar-Rasa'il wa Al-Masa'il An-Najdiyah yang diterbitkan oleh pemerintah Arab Saudi supaya kita tahu persis bahwa sebenarnya pemikiran-pemikiran Wahhabiyah itu bersumber dari kitab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah dan kitab Al-Hisbah karya Ibnu Taimiyah serta kitab As-Siyasah Al-Hukmiyah karya Ibnul Qayyim Al-Jauziah.

Pendapat kami: [5]

Menurut kami, pada awalnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ialah seruan untuk kembali kepada Islam. Kalau kita sudah sepakat atas hal itu, kita tidak perlu bersusahpayah untuk berdebat kusir.

Sesungguhnya orang yang menyeru kepada Islam yang pertama, pada hakikatnya ia menyeru kepada Islam seperti yang terlihat di Madinah pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian pada zaman Khulafaurrasyidin.

Gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab adalah gerakan pembaharuan dan pembersihan. Maksudnya ialah pembaharuan terhadap urusan-urusan Islam yang diabaikan oleh kau muslimin dan pembersihan terhadap segala bentuk kemusyrikan serta bid'ah yang mereka masukkan ke dalam Islam.

Jadi, dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah dakwah seorang filosof yang menyendiri di kamarnya, melainkan dakwah seorang tokoh pembaharu yang berjuang demi membela akidahnya dan mengamalkannya dengan lisan serta tangannya, dengan segenap hati, akal, dan kemampuannya.

Sesungguhnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah sebuah teori atau sebuah buku yang ditulis agar dibaca oleh manusia. Tetapi, sebuah manhaj resmi yang bertuuan untuk diamalkan. Pertama-tama dengan menggunakan nasihat, selanjutnya dengan menggunakan kekuatan negara Islam yang didirikan hanya atas dasar syari'at saja.

Manhaj Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah reformasi di bidang keagamaan murni saja dalam arti seperti yang dipahami oleh orang-orang Eropa. Sebab, mereka itu menganut paham sekuler yang memisahkan antara agama dan dunia. Mereka menganggap bahwa agama itu adalah hubungan khusus antara seorang hamba dan Tuhan Sang Penciptanya saja. Agama tidak mau mempengaruhi para pengikutnya dengan menggunakan kekuatan. Selanjutnya, mereka memisahkan antara hukum syari'ah dan hukum buatan manusia. Menurut mereka, sesungguhnya negara mewajibkan rakyat untuk taat kepada undang-undang yang memang dibuat untuk mereka. Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi hukum syari'at. Bahkan, ada undang-undang yang bertentangan dengan hukum syari'at.

Anggapan mereka itu keliru. Sebab, Islam adlaah sebuah kesatuan agama dan dunia. Oleh karena itu, dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah dakwah yang mencakup urusan-urusan yang bersifat agama dan politik. [6]

[Bersambung..]

[Ditukil dari kitab Hanya Islam Bukan Wahhabi oleh Prof. Dr. Nashir Bin Abdul Karim Al-Aql, halaman 7-10. Judul asli: Islamiyyah Laa Wahhabiyyah. Terbitan Darul Falah, Jakarta, Indonesia.]


_______________
Nota kaki:
[4] Muhammad bin Abdul Wahhab dan para ulama pengikutnya menegaskan bahwa sekalipun berpegang pada pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, namun mereka tetap menggunakan dalil. Meskipun mereka berbeda madzhab, karangan, dan fatwa-fatwa dalam hal itu hingga sekarang ini.

[5] La Yazali Al-Hadits karya Al-Ajlani

[6] Tarikh Al-Bilad Al-Arabiyah As-Sa'udiyah I/239-252

Sunday, March 18, 2007

Gerakan Wahhabi: Hakikat Gerakan Reformasi Dan Negara Arab Saudi Yang Pertama (Bhgn 1)


Islam Bermanhaj Salafusshalih

Salah satu hakikat yang tetap dan agung yang harus diakui bahwa sesungguhnya seruan reformasi yang dilakukan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Rahimahullah (1115 - 1206 Hijriah / 1703 - 1792 Masehi) dan yang dibela oleh Imam Muhammad bin Sa'ud Rahimahullah (wafat tahun 1179 Hijriah / 1765 Masehi) adalah seruan yang berdasarkan pada manhaj Salafusshalih Ahli Sunnah wal Jama'ah sepanjang sejarah Islam. Itulah manhaj Islam hakiki yang ditempuh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Sahabat, tabi'in, para pemimpin agama dari empat madzhab yang terkenal, para ulama ahli hadits serta ulama ahli fiqih terkemuka, dan yang lainnya.

Jadi, pada hakikatnya gerakan reformasi yang diberkahi ini berikut semua kandungan misi dan manhajnya sesuai akidah, ilmu, dan amal. Tidak lain adalah cerminan dari Islam itu sendiri yang bertujuan mengubah kebodohan dan penyimpangan yang terjadi di kebanyakan kalangan kaum muslimin dengan meluruskan akidah, memurnikan ibadah, menghidupkan sunnah Nabi, dan memerangi berbagai kemusyrikan serta bid'ah yang diada-adakan dalam agama.

Ustadz Abdurrahman Ar-Ruwaisyid mendukung pemikiran Wahhabiyah dan menganggap bahwa gerakan tersebut bukan sebuah madzhab baru, melainkan sebua gerakan yang bertujuan menghidupkan agama yang benar. Ia mengatakan dalam kitabnya Al-Wahhabiyah Harakah Al-Fikri wa Ad-Daulah:

"Wahhabiyah bukan merupakan agama baru atau madzhab yang diada-adakan seperti isu yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak simpati kepadanya. Akan tetapi, Wahhabiyah adalah hasil perjuangan murni yang menyerukan untuk kembali kepada ajaran Islam sejati yang bersumber dari tasyri' yang murni dan mengajak pada gerkan pembersihan total terhadap segala bentuk kemusyrikan, bid'h, penyimpangan, serta kesesatan yang dapat menodai kesucian iman, merusak agama, dan menjauhkan kesetiaan kaum muslimin terhadap nilai-nilai ajarannya, baik dari segi keyakinan maupun perilaku." [1]


Nama Wahhabiyah dan Upaya Pelurusannya

Nama Wahhabiyah yang melekat pada gerakan reformasi ini pertama kali diberikan oleh musuh-musuhnya. Mereka memberikan nama tersebut dengan maksud-maksud (yang negatif) menjadikannya lari, sebagai celaan, dan menyacatkannya. Mereka menganggapnya sebagai madzhab yang diada-adakan dalam Islam, atau madzhab yang kelima.

Padahal, penggunaan nama Wahhabiyah sama sekali tidak disenangi, bahkan sama sekali tidak dikenal di kalangan tokoh dan para pengikut gerakan reformasi itu sendiri. Begitu pula di kalangan orang-orang salaf Ahli Sunnah wal Jama'ah. Sebagian besar orang-orang yang netral juga merasa aneh terhadap pemberian nama Wahhabiyah tersebut kerana mereka tahu bahwa pada mulanya pemberian nama seperti itu bertujuan untuk memusuhi, mendiskreditkan, menutup-nutupi kebenaran dari orang lain, [2] membikin jarak antara seruan gerakan reformasi Muhammad bin Abdul Wahhab dan kaum muslimin yang masih awam, orang-orang bodoh, dan para pengikut kelompok yang berpecah-belah, bahkan mereka menyesatkan para ulama serta para cendekiawan yang belum mengenal hakikat gerakan tersebut dan realitanya.

Predikat Wahhabiyah bagi gerakan reformasi tersebut memang sudah sangat populer di kalangan orang lain dari musuh-musuh dakwah, sebagian pengikut dan para pendukung, serta orang-orang yang netral sebagai sikap toleran terhadap musuh dakwah ini.

Predikat itu pula yang sampai sekarang ini masih tetap laris di kalangan sebgian besar penulis, cendekiawan, sejarawan, politikus, lembaga-lembaga keilmuan, dan media informasi. Bahkan, ironisnya predikat Wahhabiyah meluas sehingga diberikan kepada tokoh-tokoh serta gerakan-gerakan tertentu yang menyimpang dari manhaj yang benar. Inilah penyebab terakumulasinya kebohongan dan dongeng-dongeng di sekitar gerakan reformasi tersebut berikut para pelakunya, dengan kebohongan serta kebathilan.

Adapun para pengikut gerakan ini tidak menganggap benar nama Wahhabiyah ini dan tidak pula diliputi berbagai kesalahan dan kebingungan. Dikarenakan gambaran-gambaran (Wahhabiyah) telah banyak memuaskan dalam bidang syari'ah, ilmiah, metode, dan kenyataan yang telah saya ringkas dan kemukakan sebelumnya bahwa gerakan tersebut merupakan cerminan dari Islam sejati yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan diikuti Salafusshalih dari kalangan Sahabat, tabi'in, dan orang-orang yang setia menempuh jalan petunjuk. Jadi, bila demikian, pembatasan penamaan selain Islam dan sunnah merupakan kesalahan yang sangat besar dan bid'ah yang diada-adakan dan tertolak.

Orang yang mau mengkaji gerakan reformasi tersebut dengan seksama dan komprehesif pasti akan tahu bahwa sebenarnya gerakan yang satu ini menyerukan untuk kembali kepada Islam yang murni sebagai sebuah akidah, syari'at, dan manhaj kehidupan. Gerakan ini - setelah terjadi perpecahan di kalangan umat Islam - mendorong untuk setia pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian ditempuh oleh Sahabat, tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat kelak. Mereka itulah yang lazim disebut Salafusshalih atau Ahli Sunnah wal Jama'ah.

Kalau demikian persoalannya, sejatinya dakwah reformasi tersebut identik dengan Islam dan sunnah yang dibawa oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan diteruskan Salafusshalih umat ini. Tidak ada artinya memberikan nama atau predikat Wahhabiyah atau lainnya kepada gerakan tersebut. Tetapi, di kalangan para ulama ahli dakwah atau yang lain memang dikenal adanya beberapa predikat syar'i yang benr dan tidak bertentangan dengan misi yang diembannya. Contohnya, Dakwah Syaikh, Dakwah Pembaharuan, Dakwah Tauhid, dan Dakwah Salafiah. Para aktivisnya disebut As-Salafiyyin, Al-Muwahhidin, Ahli Tauhid, Ahli Sunnah, Al-Hanabilah, An-Najdiyyun, dan predikat syar'i lainnya yang bagus dan bisa diterima.

Merupakan karunia Allah atas para pengikut gerakan reformasi ini bahwa predikat Wahhabiyah yang diberikan oleh musush-musuhnya justru sering mengandung makna yang positif dan membikin bangga mereka serta para ahli sunnah, walaupun hal itu dimaksudkan negatif oleh pihak musuh dengan maksud mencela ndan memaki.

Misalnya, mereka memberikan predikat Wahhabiyah tersebut kepada orang yang menegakkan syi'ar amar ma'ruf nahi mungkar. Padahal, itu merupakan salah satu prinsip Islam, syi'ar yang agung, ciri khas, dan perilaku terpuji umat Islam, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan ada orang-orang yang fasik." (Ali Imran: 110)

Atau ketika mereka memberikan predikat tersebut kepada orang yang menggunakan Al-Qur'an dan sunnah Nabi, yang berpegang teguh pada agama, yang mengamalkan tauhid secara murni, dan yang membuang jauh-jauh berbagai macam kemusyrikan serta bid'ah, tentu itu merupakan sebuah pujian dan rekomendasi yang menyenangkan orang-orang mukmin.

Atau ketika mereka memberikan predikat tersebut kepada orang yang setia menempuh manhaj Salafusshalih sebagai jalan orang-orang yang beriman dan setia mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentu itu merupakan sebuah penghormatan yang sangat mahal.

Kalau mengamati pengertian orang-orang tentang predikat Wahhabiyah yang mereka berikan kepada gerakan reformasi Muhammad bin Abdul Wahhab, kita akan dapati banyak kerancuan, kebingungan, dan kontroversi.

Predikat Wahhabiyah yang terkenal di kalangan orang-orang yang memusuhi gerakan tersebut dan para pengikutnya ditujukan kepada setiap orang yang anti bid'ah dan mengingkarinya.

Kadang dimaksudkan kepada setiap aliran yang asing dan ganjil, atau kepada setiap orang yang mengikuti madzhab Ahli Sunnah wal Jama'ah yang menjadi bandingannya golongan Syi'ah dan golongan-golongan yang lain. Bahkan, ada yang mengkhususkan kepada setiap orang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan salaf, ahli hadits, para pembela sunnah, dan lain sebagainya.

Beberapa media massa Barat dan para wartawannya bahkan mengidentifikasi Wahhabiyah sebagai setiap muslim yang cenderung berpegang teguh pada syi'ar dan hukum-hukum agama. Menurut mereka, orang yang berpegang teguh pada agama adlaah orang yang radikal.

Demikian pula beberapa lembaga di Barat serta orang-orang yangsudah terpengaruh dengannya menganggap Wahhabiyah itu identik dengan radikal, intimidasi, kekerasan, permusuhan, dan lain sebagainya. Ini jelas anggapan yang keliru dan keputusan-keputusan yang sewenang-wenang. [3]


[Ditukil dari kitab Hanya Islam Bukan Wahhabi oleh Prof. Dr. Nashir Bin Abdul Karim Al-Aql, halaman 3-7. Judul asli: Islamiyyah Laa Wahhabiyyah. Terbitan Darul Falah, Jakarta, Indonesia.]


_______________
Nota kaki:
[1] Lihat Al-Wahhabiyah Harakah Al-Fikri wa Ad-Daulah karya Ustadz Abdurrahman Ar-Ruwaisyid, hlm. 10-11. Cet. II
[2] Ibid., hlm. 5-6
[3] Bahkan di Afrika Utara dan Maroko, Wahhabiyah dianggap sebagai golongan Khawarij. Wahhabiyah dikaitkan kepada nama Abdul Wahhab Ar-Rustami, salah seorang tokoh Khawarij lama (pemerintahan Ar-Rustami). Wahhabiyah juga dikaitkan kepada nama Abdullah bin Wahhab Al-Wasibi, salah seorang tokoh Khawarij Al-Haruriyah yang pertama. Padahal, kedua nma tersebut muncul sebelum tampilnya dakwah Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan telah terjadi ketidakjelasan pada kebanyakan mereka dalam hal ini.
Lihat Risalah Tashih Khatha' Tarikh Haula Al-Wahhabiyah, Dokto Muhammad bin Sa'ad Asy-Syuwa'ir, hlm. 4 tahun 1413 Hijriah.

Friday, March 16, 2007

Effect of Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah on the da'wah of Shaykh Muhammad ibn 'Abd al-Wahhaab


(Question no. 89671)

Question:

Is there any connection between Shaykh Ibn Taymiyah, the Shaykh al-Islam, and the Wahhaabi movement?

Answer:

Praise be to Allaah.

Firstly:

First of all it must be noted that the label “Wahhaabi” was first given to the call of Imam Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab by the enemies of this call, with the aim of putting people off and warning people against it. They try to present it as an odd call with weird ideas, which is extreme in following the ideas of its imam and goes against the way of ahl al-sunnah wa’l-jamaa’ah.

It says in Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah (2/255):

Wahhaabism is a name given by the opponents of Shaykh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab (may Allaah have mercy on him) to his call to cleanse Tawheed of all elements of shirk and to abolish all ways except the way of Muhammad ibn ‘Abd-Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him). What they intend thereby is to put people off his call and block them from what he promoted. But it was not harmed by that, rather it caused it to spread even further and caused more people to come to it whom Allaah guided to look into what the da’wah was all about and what evidence it had from the Qur’aan and Sunnah. So they adhered to it, clung firmly to it and started calling other people to it, praise be to Allaah. End quote.

Shaykh Saalih al-Fawzaan (may Allaah preserve him) said in al-Bayaan li Akhta’ Ba’d al-Kuttaab (70):

This label is wrong with regard to wording, and with regard to the meaning.

With regard to wording, that is because the da’wah is not being attributed to the one who started it, namely Shaykh Muhammad, rather it is being attributed to ‘Abd al-Wahhaab, who had nothing to do with it. The proper name for it would be al-Da’wah al-Muhammadiyyah (“the Muhammadan call”).

But these opponents realized that this would be a good name that would not put anyone off, so they changed it to this distorted name.

With regard to the meaning, that is because this da’wah did not drift away from the way of the righteous salaf, namely the Sahaabah, Taabi’een and their followers. So it should rightly be called the Salafi da’wah, because the one who founded it did not introduce any innovation in that which was named after him, as the promoters of misguided sects such as the Ismailis and Qarmatiyyah introduced innovations. If those misguided sects had called themselves salafis, the people and the historical record would have rejected this name, because they are outside the path of the salaf and were introduced by their founders.

The correct name, both in wording and meaning, for the call of Shaykh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab is the Muhammadan da’wah or the Salafi da’wah.

But because this name annoys the enemies, they used an incorrect name. Therefore the word Wahhaabi was not known among the followers of the Shaykh, and it is their opponents who gave them this offensive nickname. Indeed, they gave this name to everyone who follows the way of the salaf, even in India, Egypt, Africa and elsewhere. By giving it this label, its opponents wanted to isolate the da’wah from the right path. So they excluded it from the four madhhabs and counted it as a fifth madhhab, “out of envy from their ownselves, even after the truth has become manifest unto them” (al-Baqarah 2:109). End quote.

Secondly:

The call of Imam Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab in the twelfth century AH was a continuation of the call of Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah which appeared in the seventh and eighth centuries AH.

The Imam was influenced by it because it was in agreement with the basic principles of Islam with regard to beliefs and rulings. These principles included the following:

1- Relying on the Holy Qur’aan and the saheeh Sunnah as the primary sources of legislation

2- Keenness to adhere to the way of the righteous salaf, namely the Sahaabah, Taabi’een, the four imams and those who followed them.

3- Calling people to Tawheed and rejection of shirk.

4- Affirming that which Allaah has affirmed for Himself and denying that which He has denied for Himself with regard to the divine names and attributes.

5- Rejection of fanaticism in following imams and calling for adherence to the truth based on evidence.

6- Promotion of the Sunnah and fighting innovation.

The book was the link between the two imams. Imam Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab paid a great deal of attention to the books of Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah and his student Ibn al-Qayyim.

‘Abd al-Rahmaan ibn ‘Abd al-Lateef Aal al-Shaykh said in Mashaaheer ‘Ulama’ Najd wa Ghayrihim (18):

He wrote out with his own hand many of the books of Shaykh al-Islam Ibn Tayimiyah, and some of them are still extant in the British Museum in London. End quote.

Muslim writers and others, such as some of the Orientalists, have pointed in their books to the link between Imam Ibn ‘Abd al-Wahhaab and the da’wah of Shaykh al-Islam.

The great scholar Shaykh Ahmad ibn Hajar Aal Bootaami mentioned many statements in his book al-Shaykh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab, such as the following:

‘Abd al-Muta’aal al-Sa’eedi said in his book al-Mujaddidoon fi’l-Islam:

He started to promote the same message as Ibn Taymiyah before him, of Tawheed and worship of Allaah alone.

Al-Ameer Shakeeb Arsalaan said in Part Four of Haadir al-‘Aalim al-Islaami, under the title Tareekh Najd al-Hadeeth (the history of modern Najd):

He had imbibed the principles of al-Haafiz Hujjat al-Islam Ibn Taymiyah … and he started to think of restoring Islam to its former purity. I do not think that he come up with any ideas different from the ideas of Ibn Taymiyah. End quote.

Al-Haafiz Wahbah said in his book Jazeerat al-‘Arab:

Their teachings are identical to that which was written by Ibn Taymiyah and his student in their books, although they differed with them concerning a few minor issues. End quote.

Manhaj Haroon said, refuting the English writer Count Wales:

Everything that Shaykh Ibn ‘Abd al-Wahhaab said has been said by others who came before him of imams and scholars, and the noble Sahaabah. He did not go beyond anything that Imam Ahmad and Ibn Taymiyah (may Allaah have mercy on them) had said. End quote.

Muhammad Diya’ al-Deen al-Rayyis said:

… Ibn Taymiyah is the direct teacher of Ibn ‘Abd al-Wahhaab, even though there were four centuries between them. He read his books and was completely influenced by his teachings. End quote.

Brockelmann said in History of the Islamic Peoples:

In Baghdad, Muhammad studied the fiqh of Ahmad ibn Hanbal, then he studied the writings of Ahmad ibn Taymiyah who had revived the teachings of Ibn Hanbal in the fourteenth century (CE). In fact his study of the views of these two imams led him to the conclusion that Islam, in the form that was prevalent during his time, especially among the Turks, was mixed with a great deal of incorrect ideas that had nothing to so with the sound Islamic teachings. End quote.

Ahmad Ameen said:

… In his da’wah and teachings, he followed the example of a great scholar and teacher who had appeared in the seventh century AH at the time of the Sultan al-Naasir, namely Ibn Taymiyah, who believed in ijtihaad and was a free thinker within the limits set by the Qur’aan and Sunnah. It seems that Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab knew of Ibn Taymiyah, who was his imam and leader, and his example, the one who inspired him with regard to ijtihaad and calling for reform. End quote.

See: Athar Da’wat Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah fi’l-Harakaat al-Islamiyyah al-Mu’aasirah (1/136-138) by Salaah al-Deen Maqbool.

Thirdly:

But despite this strong link between the two imams, Imam Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab was a follower of evidence and was not a blind follower of personalities. He understood that Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah was one of the great imams of Islam, but that all humans are prone to error. He understood that Ibn Taymiyah (may Allaah have mercy on him) was not an innovator who introduced a new message that was alien to Islam, rather he was following the way of the righteous salaf and following should be based on evidence and consensus among the imams. But no imam should be followed blindly no matter how great his level of knowledge, rather anyone’s opinion may be accepted or rejected except the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him).

Shaykh al-Fawzaan (may Allaah preserve him) said in al-Bayaan bi’l-Daleel (150), refuting the claim that Shaykh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab was nothing but a carbon-copy of Ibn Taymiyah:

This is what he said about the academic level of Shaykh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhaab: He did not study anything but the writing of Ibn Taymiyah! It is as if he had not read the biography of the Shaykh and did not know anything about his level of knowledge, or he did know it but he concealed it in order to demean him and to deceive those who knew nothing about the Shaykh.

But this does not conceal the truth. Writers have written many books about the Shaykh (may Allaah have mercy on him) that have been published throughout the world and which are known to the elite and common folk alike. He (may Allaah have mercy on him) studied fiqh, hadeeth and usool in depth, including the books of ‘aqeedah that were compiled and written by Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah and his student Ibn al-Qayyim. He graduated at the hands of great scholars and imams in various fields in Najd, the Hijaaz, al-Ihsa’ and Basrah. He was granted ijaazahs to narrate from them and convey their knowledge. He studied, issued fatwas and wrote books about fiqh, hadeeth and ‘aqeedah until he earned the admiration of those who gathered around him or listened to his lessons and debates, or who read any of his writings. His writings point to the vastness of his knowledge of Islamic sciences and the depth of his understanding. What he spoke of in those writings was not limited only to the books of Ibn Taymiyah – as those who are ignorant or who pretend to be ignorant think – rather he also quoted the views of prominent imams on fiqh, tafseer and hadeeth, which is indicative of the depth of his knowledge and understanding, and his keen insight. His books that have been printed and are in circulation bear witness to that, praise be to Allaah. He did not quote only the words of Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah and ignore the opinions of others, unless he believed Ibn Taymiyah’s view to be stronger on the basis of evidence. In fact, he disagreed with Ibn Taymiyah on some matters of fiqh. End quote.

For more information please see the answers to questions no. 36616, 10867 and 12203.


Islam Q&A

Tuesday, March 13, 2007

The Life enjoyed by Martyrs


Allah's statement:

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبيلِ اللّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاء وَلَكِن لاَّ تَشْعُرُونَ

{And say not of those who are killed in the way of Allah, "They are dead." Nay, they are living,} indicates that the martyrs are alive and receiving their sustenance.

Muslim reported in his Sahih:

[Arabic text not included]

((The souls of the martyrs are inside green birds and move about in Paradise wherever they wish. Then, they take refuge in lamps that are hanging under the Throne (of Allah). Your Lord looked at them and asked them, "What do you wish for?" They said, "What more could we wish for while You have favored s with what You have not favored any other of Your creation?" He repeated the question again. When they realize that they will be asked (until they answer), they said, " We wish that You send us back to the earthly life, so that we fight in Your cause until we are killed in Your cause again," (because of what they enjoy of the rewards of martyrdom). The Lord then said, " I have written that they will not returned to it (earthly life) again.)) [1]

Imam Ahmad reported that 'Abdur-Rahman bin Ka'b bin Malik narrated from his father that Allah's Messenger (sallAllahu 'alayhi wa sallam) said:

[Arabic text not included]

((The believer's soul is a bird that feeds on the trees of Paradise until Allah sends it back to its body when the person is resurrected.)) [2]

This Hadith includes all the believers in its general meaning. Thus, the fact that the Qur'an mentions the martyrs in particular in the above Ayah serves to honor, glorify and favor them (although the other believers share the rewards they enjoy).

[Extracted without the Arabic texts of the two mentioned hadeeths from "Tafsir Ibn Kathir (Abridged)", abridged by a group of scholars under the supervision of Shaykh Safiur-Rahman al-Mubarakpuri.]


_________________
Footnotes:
[1] Muslim 3 : 1502.
[2] Ahmad 3 : 455

Tuesday, March 06, 2007


The dead supplicating to Allah on behalf of the living
Imaam Sayyid Nadheer Hussayn ad-Dahlawee
Reference: Fatãwaa Nadheeriyah, Book of Iman and Beliefs - Volume 1 page 29
Category:
Creed

There is a person who visits a grave believing that the person in this grave was pious. Because of this belief, he beseeches Allah through the deceased saying ‘O pious man! Please supplicate to Allah on my behalf so that He blesses me with children.’ Is such an act permissible?

To visit any one’s grave, beseeching the dead person to supplicate to Allah on his or her behalf, with the mistaken belief that the deceased is acting as an intermediary is baseless and forbidden; as such an act has not been established in the Shariah. This act is based upon the false belief that the dead can listen to the beseeching of the living, that they have the ability to supplicate to Allah on their behalf, and that the supplication of the deceased is accepted because of their piety & holiness. Not a single one of the above aforementioned reasons have been established from authentic evidence as has been determined in the Qur’an & Sunnah[1], so how can such an act ever be permissible?


Footnotes:
[1] Rather it goes against the correct Islamic Aqeedah as mentioned by Allah, the Most High in His noble book; The Qur’an. Refer to Surah 46 Al-Ahqaf Ayah No 5-6:


{And who is more astray then one who calls on (invokes) besides Allah, such as will not answer him till the Day of Resurrection, and who are (even) unaware of their calls (invocations) to them. And when mankind are gathered (on the Day of Resurrection), they (false deities) will become their enemies and will deny their worshipping}.

Refer to Surah 16 An-Nahl Ayah no: 20-21:

{Those whom they (those who set up rivals with Allah, and those who worship others along Allah) invoke besides Allah have not created anything, but are themselves created. (They are) dead, not alive, and they know not when they will be raised up}.

Translator:
Zulfiker Ibrahim al-Memoni al-Athari
Date Published: Thursday, 01 March 2007
This article has been read 168 times
Print this article

The translator affirms the accuracy of his translation of this article. Should you have any comment(s) and/or correction(s) to suggest, please write to us at:
admin@madeenah.com
...and your email will be passed on to him, inshaa.-Allaah.


[Extracted from http://www.madeenah.com/article.cfm?id=1217 with formatting changes done.]

Monday, February 19, 2007

An entry for readers...


As-Salaamu 'alaykum wa rahmatullaah.

First and foremost, I'd like to say that I'm rather surprised and touched to know that my humble blog is being visited not just by Singaporeans but also readers all the way to US. Then, there are also readers from countries which I never expected, namely Egypt, France and Canada.

All I can say is Maashaa-Allaahu wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaah...
By the Will of Allaah Most Gracious and Most Merciful, this humble little effort in da'wah has reached out far, with the simple tool called "blog" and the complex medium called "Internet"...

And who is the One who Willed all this to happen if not Allaah?

Anyway, my main intention in writing (or typing) this entry is to convey my appreciation to readers who frequent my blog. As this blog is set up for the sole purpose of da'wah, each time a reader hits my blog, a reward for da'wah is recorded for me.

Hence, I'd like to thank the readers and visitors of this blog. BarakAllaahu feekum. May Allah grant all of you the ease in your affairs and the strong understanding and conviction to the beautiful religion of Islaam upon the manhaj of the Salaf.

Dearest readers, feel free to comment on my blog... I would like to hear feedbacks from you and would value them, inshaa-Allaah..

If you have any feedback or suggestion, feel free to leave a comment... I'll look into every single comment, inshaa-Allaah..

Al-Hamdu lillaah, previously, there was a brother who offered to give me a link or something (to be posted on my blog) pertaining to the book "Growing a beard", from which I took a few extracts and posted them on this blog.. Though I did not fulfill his suggestion, I truly appreciate his sincerity in providing his feedback and giving additional ideas for my blog.

Just a simple request.. If you do leave a comment on my blog, try to avoid writing as "Anonymous". Do state your name and if possible, where you're from (especially if you're not from Singapore). There's nothing to be afraid of especially when we're not doing anything wrong.

Perhaps all of you can leave a comment to this entry, stating your overall view on my blog as well as suggestions for improvement, etc.

BarakAllaahu feekum.

Tuesday, February 13, 2007

On Interaction With Non-Muslims



Living in Society
On Interaction With Non-Muslims
Shaikh Ibn Uthaimeen on Interacting With Non-Muslims in Western Countries
Author: Shaikh Ibn Uthaimeen

Source: Tele-link (28th July 2000, Birmingham UK)
Article ID : LSC010001 [12981]


The Shaikh stated, during a tele-link, on the 28th July 2000:

...Likewise I invite you to have respect for those people who have the right that they should be respected, from those between you and whom there is and agreement (of protection) [i.e. Non-Muslims]. For the land which you are living is such that there is an agreement between you and them. If this were not the case they would have killed you or expelled you. So preserve this agreement, and do not prove treacherous to it, since treachery is a sign of the hypocrites, and it is not from the way of the Believers.

And know that it is authentically reported from the Prophet that he said : "Whoever kills one who is under and agreement of protection will not smell the fragrance of Paradise."

Do not be fooled by those sayings of the foolish people : those who say : 'Those people are Non-Muslims, so their wealth is lawful for us [i.e. to misappropriate or take by way of murder and killing].' For by Allaah - this is a lie. A lie about Allaah's Religion, and a lie in Islamic societies.

So we may not say that it is lawful to be treacherous towards people whom we have an agreement with.

O my brothers. O youth. O Muslims. Be truthful in your buying and selling, and renting, and leasing, and in all mutual transactions. Because truthfulness is from the characteristics of the Believers, and Allaah - the Most High - has commanded truthfulness - in the saying of Allaah - the Most High -

"O you who believe - fear and keep you duty to Allaah and be with the truthful"

And the Prophet encouraged truthfulness and said : "Adhere to truthfulness, because truthfulness leads to goodness, and goodness leads to Paradise; and a person will continue to be truthful, and strive to be truthful until he will be written down with Allaah as a truthful person".

And he warned against falsehood, and said : "Beware of falsehood, because falsehood leads to wickedness, and wickedness leads to the Fire. And a person will continue lying, and striving to lie until he is written down with Allaah as a great liar."

O my brother Muslims. O youth. Be true in your sayings with your brothers, and with those Non-Muslims whom you live along with - so that you will be inviters to the Religion of Islaam, by your actions and in reality. So how many people there are who first entered into Islaam because of the behaviour and manners of the Muslims, and their truthfulness, and their being true in their dealings.

Tuesday, February 06, 2007

Ibn Taymiyyah on Raafidah Shee'ah


Description of the characteristics of the Raafidah

They are the greatest of the followers of desires, in both ignorance and oppression, they show enmity towards the best of the Awliyaa of Allaah, the Most High, from those after the Prophets, amongst the foremost (in faith) amongst the Muhaajireen and Ansaar and those who followed them in goodness – may Allaah be pleased with them, and they be pleased with him – and they ally with the Disbelievers, Hypocrites, Jews, Christians, the Pagans, and the various factions of the Malaahidah (Disbelieving Heretics) such as the Nusayriyyah, the Ismaa`eeliyyah and others from astray ones.


Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah
Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah of Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah 1/20

Translated by Abu `Iyaad Amjad Rafiq

http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=38


Mutual cooperation of the Raafidah with the Jews.

Their cooperation with the Jews is a matter that is well known and famous.


Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah

Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah of Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah 1/21

Translated by Abu `Iyaad Amjad Rafiq

http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=39


The claim that the hearts of the Raafidah are good.

From the greatest of the filth of the hearts is that there should be enmity in the heart towards the best of the Believers and the chiefs of the Awliyaa of Allaah after the Prophets.


Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah

Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah of Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah 1/22

Translated by Abu `Iyaad Amjad Rafiq

http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=40


When the term Raafidah was applied to them.

From the time of the revolt of Zaid, the Shi’ah were divided into Raafidah and Zaidiyyah, and when he (Zaid) was asked about Abu Bakr and ‘Umar he invoked mercy upon them both, a people rejected him (rafadahu), and he said to them, “You have rejected me (rafadtumoonee)”. So they were called “ar-Raafidah”, due to their rejection of him. And anyone who did not reject him from amongst the Shi’ah was called a “Zaidiyy” due to their ascription to him.


Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah

Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah of Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah 1/35

Translated by Abu `Iyaad Amjad Rafiq

http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=41


The distinguishing features of the Raafidah

They free themselves from all of the Companions of Allaah’s Messenger (sallallaahu `alayhi wa sallam), except a very small number that reaches ten odd...

When the origin and base of their madhhab rests upon ignorance, then they became the greatest of all the factions in ignorance and lying...

The people of knowledge are agreed, by way of transmittal, reporting, and chain of narration that the Raafidah are most lying of all of the factions, and lying amongst them is an ancient matter, and for this reason the Scholars of Islaam used to know that they are distinguished with abundant lying...

They say, “Our religion is taqiyyah (deception)”!! And this is that one of them says with his tongue what is other than what is in his heart, and this is lying and hypocrisy...

They are greatest of people in opposition to those in authority, and the furthest of the people from obeying them, except under compulsion...

What striving is more astray than the striving of the one who tires himself with a lengthy tiring, and indulges in much “al-qaal wal-qeel (i.e. hearsay)”, and separates from the Jamaa’ah of the Muslims, and curses the foremost (in goodness) and the successors after them, and aids the Disbelievers and Hypocrites, and devises many types of stratagems, plots, and traverses whatever paths are possible for him to traverse, and supports himself with false testimony, and who keeps his followers attached by the rope of deception.


Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah

Minhaaj as-Sunnah an-Nabawiyyah of Shaykh ul-Islaam Ibn Taymiyyah
1/39,57,59,68,111,121

Translated by Abu `Iyaad Amjad Rafiq

http://www.fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=43

On Khomeini

The Islaamic ruling regarding (Ayatollah) Khomeini
*Please appropriately reference this fatwa to: www.fatwa-online.com, thankyou!*

Question: What is the Islaamic ruling regarding (Ayatollah) Khomeini?

Response: Khomeini has a book in which he mentions the excellence of the Imaams (Hassan and Hussein et al) of the family of the Prophet (
sal-Allaahu `alayhe wa sallam) over and above the Prophets and the Messengers (`alayhim as-salaam); (So) based upon this (statement of his) he is not a Muslim.

Shaykh al-Albaanee
al-Haawee min Fataawa ash-Shaykh al-Albaanee – Page 349

[Extracted from: http://www.fatwa-online.com/fataawa/creed/deviants/0040416.htm]


WHY HAVE THE MUSLIM SCHOLARS CONDEMNED KHOMEINI TO BLASPHEMY?

Numerous religious authorities have issued their judicial rulings respecting the blasphemy and apostasy of Khomeini. Those authorities include the Muslim World League which gave a deliverance on the subject on the 9th of Ramadan 1400 h (1980), and another at its 3rd annual conference in Safar, 1408/1987; the Ministry of Endowment and Religious Affairs in Morroco, 1400h., ash-Shaikh al-Habib Bal-Khojah, the Jurist consult of the Tunisian Republic; his eminence, ash-Shaikh Abdul-Aziz bin Baz, ash-Shaikh Nasirud-Deen al-Albani, the leading authority in the science of the Prophetic tradition; and many other scholars in the Muslim world.

Since many students of knowledge, as well as common people, may not be aware of the legal evidence upon which the relevant judicial ruling is based, some may even wonder why Khomeini was condemned to kufr, or blasphemy. For this reason, we desire to cite in this discourse the statements and opinions made by him, and follow these with the judicial argument which exposes their blasphemous nature. This will serve as established evidence against the unbelievers and the rebellious, and also to render ourselves excused before Allaah, "... and that they may fear Him." (Qur'aan - 7:164)

Read more:
www.allaahuakbar.net/shiites/fataawaa_of_muslim_scholars_on_khomeni.htm

Monday, February 05, 2007

Surat dari wakil Syiah di Singapura

Berikut saya tukil sepucuk surat yang dikirim oleh beberapa wakil kaum Syi'ah di Singapura. Ianya ditukil daripada ruangan Forum akhbar Berita Harian (Singapura) pada Sabtu, 3 Februari 2007:

PRIHATIN LAPORAN BOLEH PINGGIRKAN PENGIKUT SYIAH

KAMI merujuk kepada laporan bertajuk Pengikut Syiah didakwa 'kafir' (BH, 24 Januari) yang dipetik daripada agensi berita asing.

Kami daripada tiga badan Islam setempat yang mewakili lebih seribu keluarga berbilang bangsa pengikut mazhab Islam Ahlulbait/Jaafari/Syiah ingin merakamkan rasa kesal yang mendalam dan berasa sangat tersinggung dengan tersiarnya berita tersebut.

Kami khuatir berita seperti ini akan meminggirkan dan memencilkan anggota dan keluarga mereka daripada masyarakat umum, atau lebih menyedihkan lagi, membawa perselisihan dan perpecahan sesama keluarga, rakan, jiran dan taulan.

Seyogia, perwakilan kami dalam pertubuhan induk seperti Yayasan Mendaki dan Lembaga Biasiswa Kenangan Maulud (LBKM) akan juga kurang disenangi.

Kami berpendapat berita yang seumpamanya hanya akan mengundang suasana tegang yang tidak diingini.

Walhal kita sama-sama maklum bahawa pemerintah sedang melakukan usaha berterusan untuk mewujudkan toleransi di antara agama dan kaum.

Penganut mazhab Ahlulbait/Jaafari/Syiah adalah penganut agama Islam yang sangat mencintai kedamaian, sebagaimana yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw (berdasarkan Al-Quran dan Sunah), yang selanjutnya diajarkan kepada 12 imam secara berurutan.

Kami sering dianggap 'sesat', 'berdosa', 'menyeleweng' dan 'kafir' hanya kerana perbezaan pentafsiran tentang Islam dan kecintaan kami yang sangat mendalam kepada Nabi Muhammad dan ahlulbaitnya.

Mazhab Ahlulbait/Jaafari/Syiah merupakan salah satu daripada lima mazhab yang diakui sah dalam Islam, sebagaimana yang telah difatwakan Al-Imamul-Akbar As-Syeikh Mahmud Syaltut, yang merupakan rektor Universiti Al-Azhar pada saat itu.

Keberadaan dan kebenaran mazhab Ahlulbait/Jaafari/Syiah khususnya di Singapura juga telah diakui Majlis Ugama Islam Singapura (Muis) dalam pernya taan fatwa mereka secara bertulis (www.muis.gov.sg, Services>Islamic Guidance>Fatwa Knowledgebase).

Dalam mazhab Ahlulbait/Jaafari/Syiah dan majoriti mazhab ahlul sunnah waljamaah, sama sekali tidak diajarkan untuk mengkafirkan golongan antara mazhab-mazhab lain selagi mereka masih beriman kepada Allah, menerima Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan beriman pada hari kiamat.

Oleh itu, kami tidak dapat bertolak ansur dengan segala pernyataan yang bersifat mengkafirkan golongan atau kelompok lain dalam Islam.

Kami ingin menghimbau pada seluruh umat Islam khususnya di Singapura agar tetap menjaga keamanan, kesatuan dan keharmonian agama dan kaum.

Dalam konteks ini, kita mesti mengelakkan diri daripada terjebak dengan pandangan radikal dan ekstremis daripada segelintir umat Islam.

Aidil Md Idris
Setiausaha Agung Himpunan Belia Islam

Sigit Triyono
Setiausaha Agung Persatuan Islam Jaafari

Razman Abdullah
Setiausaha Agung Persatuan Islam Al Hikmah

Nota Editor: Kami menerima beberapa lagi surat pembaca mengenai isu ini dengan kandungan yang hampir sama dan ingin menutup perbincangan isu ini. Terima kasih atas segala sumbangan pembaca.

Surat di atas adalah sebagai maklum balas terhadap sebuah laporan yang menyebutkan kenyataan Sheikh Abdullah al-Jibreen dari Arab Saudi bahawa Syi'ah adalah kafir kerana fahaman mereka yang menyeleweng.

Tetapi apakah isu ini suatu yang baru? Tidak, tidak sama sekali.

Apabila ditanya tentang artikel tersebut, khususnya tentang Syi'ah, Ustaz Hamzah Jumaat ada menyebutkan bahawa al-Imam al-Syafi'i rahimahullah ada mengatakan (lebih kurang berikut):

"Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih pendusta/pembohong daripada kaum Syi'ah Rafidhah."

Ustaz Hamzah juga menyebutkan bahawa Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan bahawa daging sembelihan mereka (kaum Syi'ah) tidak halal dimakan oleh kita (kaum Sunnah).

Justeru, perlukah isu ini dibahaskan lagi?

Biar saya mengulas sedikit tentang surat tersebut:

1) Pertama sekali, surat ini menjadi bukti pertama (primary evidence) bahawa kaum Syi'ah wujud di Singapura.

2) Anda, wahai kaum Syi'ah, mengataka bahawa anda khuatir laporan seperti itu akan meminggirkan dan memencilkan kaum Syi'ah di Singapura atau membawa perselisihan dan perpecahan sesama keluarga, jiran, rakan dan taulan.

Apakah anda cuba mengatakan bahawa di Iran, sebuah negara Syi'ah, kaum Sunnah dilayan dengan adil dan sama rata dengan kaum Syi'ah? Adakah anda cuba menafikan bahawa kaum Sunnah di Iran bukan sahaja dipinggirkan dan dipencilkan, malah ramai ulama Sunnah yang dipenjarakan malah dibunuh tanpa sebarang tuduhan?

Silalihat:
Dismal reality of Ahlus Sunnah in Iran:
www.allaahuakbar.net/shiites/dismal_reality_of_ahlus_sunnah_in_iran.htm

The Plight of Sunni Ulama in Iran:
www.allaahuakbar.net/shiites/plight_of_sunni_ulama_in_iran.htm

3) Kami Ahlus Sunnah sama sekali takkan terpedaya dengan tipu daya anda wahai kaum Syi'ah. Adalah diketahui bahawa Taqiyyah adalah pegangan utama anda, yang mana anda menganggapnya sebagai 9 daripada 10 bahagian agama.

Apakah itu Taqiyyah? Taqiyyah ialah menyatakan sesuatu secara lisan sedangkan ianya bertentangan dengan apa yang diyakini di hati. Dalam erti kata lain, "lidah kata lain, hati kata lain".
Apakah ini wahai Syi'ah? Bukankah ini sifat munafiq?

Sedangkan menurut Ahlus Sunnah, kalimah at-Tayyibah atau dua kalimah syahadah
  • dilafazkan dengan lidah
  • ditasdiqkan (dibenarkan) di hati
  • dibuktikan dengan amalan

Hanya apabila 3 syarat tersebut dipenuhi baru seseorang itu dikira beriman.

Sedangkan anda wahai Syi'ah beri'tiqadkan bahawa hati dan lidah boleh bertentangan demi memelihara fahaman kamu, dan kamu namakannya "taqiyyah"!

Malah, ayat al-Qur'an "Inna akramakum 'indAllaahi atqaakum" (sesungguhnya manusia yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di kalangan kamu) anda tafsirkan dengan erti kata taqiyyah!

Lalu saya menegaskan sebagaimana yang ditegaskan Shaykh al-Islam Ibnu Taimiyyah bahawasanya agama ini adalah berdasarkan taqwa bukan taqiyyah!

Sekarang saya tanya kepada anda, anda berpegang kepada taqiyyah dan menganggapnya sebagai 9 daripada 10 bahagian agama.. lalu apakah yang buat anda fikir kami kaum Sunnah akan dapat mempercayai anda dan berdamai dengan anda?

Sebab depan kami anda akan berbaik-baik, di belakang kami bagaimana pula?

4) Di dalam Minhajus-Sunnah an-Nabawiyyah, Shaykh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan bahawa kerjasama antara kaum Syi'ah dan kaum Yahudi adalah sesuatu yang cukup diketahui lagi masyhur!

5) Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang meragui sama ada mereka (kaum Syi'ah) adalah kafir, dia sendiri telah kufur."

6) Imam Malik rahimahullah mengatakan, "Jangan berbicara dan jangan meriwayatkan daripada mereka, kerana mereka sesungguhnya adalah pendusta."

Kenyataan para ulama terdahulu tentang Syi'ah Rafidhah:

www.allaahuakbar.net/shiites/what_do_scholars_of_ahlusunnah_tell_about_shias.htm

7) Poin 3 hingga 6 jelas menunjukkan kami kaum Sunnah tidak akan dapat mempercayai anda, lalu bagaimana mungkin kami dapat berdamai dengan anda?

8) Anda menyebutkan fatwa Sheikh al-Azhar, Sheikh Mahmud Syaltut dan juga fatwa Muis. Ketahuilah kedua fatwa tersebut tidak membawa erti apa-apa kerana bertentangan dengan fatwa para ulama muktabar terdahulu.

Adalah menarik Anda menyebutkan Sheikh Mahmud Syaltut sebagai "al-Imamul-Akbar" sedangkan kami kaum Sunnah tak pernah menggunakan gelaran tersebut kepada para ulama kami, tidak pula kepada para ulama muktabar terdahulu seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad rahimahumullah.

Apakah anda menggunakan gelaran tersebut kerana beliau membenarkan mazhab anda?

9) Anda menyebutkan bahawa mazhab Ahlulbait/Ja'fari/Syi'ah dan majoriti Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak ajar untuk mengkafirkan golongan antara mazhab-mazhab lain selagi mereka masih beriman kepada Allah, menerima Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan beriman kepada hari kiamat.

Ya, memang benar. Akan tetapi, kekufuran anda adalah sesuatu yang jelas, dan dipersaksikan oleh para ulama muktabar terdahulu.

Ya, anda beriman kepada Allah, menerima Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan beriman kepada hari kiamat. Tetapi anda juga berpegang bahawa kalimah at-Tayyibah atau dua kalimah syahadah perlu ditambah dengan kalimah "wa 'Ali waliyyullah" (dan Ali adalah wali Allah). Dan anda berpegang bahawa kalimah at-Tayyibah yang tidak menyebutkan "wa 'Ali waliyyullah" adalah batal.

Justeru, anda sendiri menghukum kami kaum Sunnah sebagai kafir, sekalipun di depan kami anda akan menafikannya!

Anda beri'tiqad bahawa 12 imam Ahlul Bayt bermula daripada Saiyidina 'Ali radhiyAllahu 'anhu adalah ma'shum (terpelihara daripada dosa) sedangkan bagi kami, kema'shuman itu hanya sifat para nabi.

Anda beri'tiqad bahawa para imam mengetahui hal-hal yang ghaib dan memiliki ilmu tentang masa lalu, masa kini dan masa sekarang sedangkan sifat itu tidak dimiliki oleh para nabi. Para nabi 'alaihimussalam hanya mengetahui hal-hal ghaibiyyah yang dikhabarkan Allah kepada mereka.

Dalam erti kata lain, anda memuliakan dan mengangkat darjat para imam melebihi para nabi! Subhanallah..

Anda mengkafirkan dan membenci jumhur (majoriti) Sahabat, terutama sekali Abu Bakar, Umar dan Uthman radhiyAllahu 'anhum. Anda menghukum Abu Bakar dan Umar sebagai pengkhianat dan munafiq.

Dalam kitab-kitab anda, anda muatkan hadith-hadith palsu yang cukup menjijikkan. Antaranya:

Nabi sallAllahu 'alaihi wa sallam pernah tidur di bawah satu selimut bersama Ali dan Aisyah. Lalu Nabi bangun untuk solat malam, meninggalkan Ali dan Aisyah di dalam selimut. (Bihar al-Anwar, jilid 40, Mulla Baqir al-Majlisi)

Imam Ja'far bin Muhammad mengatakan, Nabi sallAllahu 'alayhi wa sallam biasa meletakkan mukanya ke dada anaknya Fatimah sebelum Baginda masuk tidur. (Bihar al-Anwar, jilid 43, Mulla Baqir al-Majlisi)

Belum lagi kenyataan yang membolehkan liwat dan suami menyetubuhi dubur isteri, wa iyadzu billah...

"Berhati-hatilah daripada mengahwini orang Negro kerana mereka adalah makhluk yang cacat." (al-Kafi, Jilid 5) Subhanallah.. inikan racism...

Untuk pengetahuan lanjut, sila baca:

www.allaahuakbar.net/shiites/absurdities_of_ithnaashari_works.htm

Lalu bagaimana kami dapat mempercayai dan berdamai dengan kamu?

Namun, kepada para pembaca sekalian, perlu difahami bahawa saya dan para ulama Salafi sama sekali tidak mengisytiharkan perang kepada mereka kaum Syi'ah. Kita berhubungan dengan mereka sebagaimana kita berhubungan dengan orang kafir.

Wallahu a'lam.

(Nota: Saya akan kemukakan beberapa penjelasan para ulama tentang Syi'ah dalam penulisan seterusnya.)

Sunday, February 04, 2007

Remedy for memorising


“So I asked him about the remedy for memorising..."
*Please appropriately reference this quote to: www.fatwa-online.com, thankyou!*
‘Alaa ibn Khushrum said:
((I have never seen Wakee’ with a book in his hands, rather, he memorised. So I asked him about the remedy for memorising and he said:
“If I taught you the remedy would you use it?” I said: “Yes, wAllaahi!” He said: “Abandon sinning (since) I have never experienced anything like it for memorising”))
al-Hifth – Ahammiyyatuhu, ‘Ajaa.ibuhu, Tareeqatuhu, Asbaabuhu – Page 67
al-Jaami’ lil-Khateeb – Volume 2, Page 258
Tahtheeb al-Kamaal – Volume 30, Page 480